Ngadhu
Tugu kayu yang melambangkan leluhur laki-laki. Berdiri tegak dengan atap berbentuk payung dari ijuk.
Bena adalah kampung tradisional di Kabupaten Ngada, Flores, yang berdiri di lereng Gunung Inerie. Kampung ini dianggap sebagai salah satu kampung adat paling terjaga di Flores — tata ruang, rumah, dan susunan batu megalitiknya masih sama dengan ratusan tahun yang lalu.


Kampung Bena tertata dalam dua deret rumah panjang yang berhadapan, dengan pelataran panjang di tengahnya. Pelataran ini berisi susunan batu megalit — peo, tempat para leluhur dipanggil dalam ritus adat. Di antara rumah-rumah berdiri ngadhu (tugu kayu beratap ijuk yang melambangkan leluhur laki-laki) dan bhaga (rumah kecil yang melambangkan leluhur perempuan).
Atap rumah-rumah Bena terbuat dari ijuk dan rumput alang. Pintu rumah menghadap ke pelataran. Setiap klan memiliki rumah induknya sendiri — tempat warisan adat disimpan.
Susunan megalit di tengah kampung Bena adalah penanda hubungan warga dengan leluhurnya. Beberapa batu menjadi tempat pemujaan, beberapa lainnya merupakan kuburan tetua kampung. Ritus-ritus tahunan, terutama Reba, dilakukan di pelataran ini.
Tugu kayu yang melambangkan leluhur laki-laki. Berdiri tegak dengan atap berbentuk payung dari ijuk.
Rumah kecil mirip rumah panggung mini, melambangkan leluhur perempuan dan rahim klan.
Tonggak kayu di tengah pelataran tempat hewan persembahan diikat saat upacara adat.
Bena terletak sekitar 19 km dari Bajawa, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor melewati jalan beraspal yang berkelok-kelok di antara perbukitan. Pemandangan Gunung Inerie yang berbentuk kerucut sempurna mendampingi sepanjang perjalanan.