Reba
Upacara tahun baru masyarakat Ngada. Diisi dengan tarian, doa, dan perjamuan adat yang melibatkan satu kampung penuh.

Pulau Flores adalah mozaik budaya. Dalam satu pulau yang memanjang dari barat ke timur, hidup berdampingan tujuh kelompok budaya besar — Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata — masing-masing dengan bahasa, tarian, dan tenun ikat yang berbeda.

Tradisi Caci, tarung dengan cambuk dan perisai dari kulit kerbau. Sawah berbentuk jaring laba-laba (lingko) di Cancar adalah lanskap khas Manggarai.

Pusatnya di Bajawa. Kampung adat Bena, Wogo, Gurusina dengan rumah ngadhu dan bhaga. Upacara Reba (tahun baru) dan Etu (tinju tradisional).

Tradisi pertanian dan ritual leluhur. Kain tenun dengan motif khas, serta upacara adat yang melibatkan seluruh kampung.

Kota di tepian danau Kelimutu. Kain tenun ikat Ende terkenal dengan motif geometris dan warna alam yang dalam.

Pusat tenun ikat Flores. Maumere dan sekitarnya menyimpan tradisi menenun yang diwariskan turun-temurun oleh para perempuan.

Tradisi pelaut dan pemburu paus tradisional di Lamalera. Tarian Hedung dan musik lokal yang khas.
Setiap motif tenun ikat di Flores menceritakan kisah — leluhur, alam, ritus, dan harapan. Pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami: nila untuk biru, mengkudu untuk merah, dan kunyit untuk kuning. Proses menenun selembar kain bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Di Sikka, Ende, dan Lembata, perempuan masih menenun di bawah rumah panggung — tradisi yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan, generasi demi generasi.


Upacara tahun baru masyarakat Ngada. Diisi dengan tarian, doa, dan perjamuan adat yang melibatkan satu kampung penuh.
Tinju tradisional Bajawa, lambang keberanian dan persaudaraan antar kampung.
Seni tarung Manggarai dengan cambuk (larik) dan perisai (nggiling) dari kulit kerbau. Pertunjukan penuh ritme dan kehormatan.